Oleh : Muhammad Ali Ibrahim
Pendahuluan
Dalam mempelajari ilmu hadis kita
mengenal banyak cara dalam melakukan pendekatan untuk memahami hadis. Ada
beberapa pendekatan dalam mempelajari lahirnya suatu hadis diantaranya dari
segi antropologi, sosiologi, sosio histories, dan psikologi. Dalam kesempatan
yang telah kita lewati, telah dipelajari beberapa metode pendekatan hadis. Pada
kesempatan kali ini kami kan mengulas sedikit tentang pensekatan hadis secara
psikologi.
Pembahasan
Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan
proses mental, baik nnormal maupun abnormal dan pengaruh baik atau buruknya
terhadap perilaku, dengan kata lain : ilmu pengetahuan tentang gejala kegiatan
jiwa.[1]
Secara bahasa psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya
jiwa. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti :
“ilmu yang mempelajari tentang jiwa,
baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”.[2]
Adapun
yang dimaksud dengan pendekatan psikologi dalam pemahaman hadis adalah memahami
hadi dengan memperhatikan kondisi psikologi Nabi dan masyarakat pada waktu itu.
Beberapa hadis disabdakan oleh Nabi ketika sahabatnya bertanya perihal sesuatu,
oleh karenanya dalam keadaan tertentu Nabi memperhatikan kondisi psikologi
sahabat yang bertanya.[3]
Ini akan menentukan pemahaman hadis secara utuh.
Sebagai contoh hadis tentang amalan yang paling utama. Ternyata
hadits yang menyatakan amalan yang utama berjumlah banyak dan sangat variatif. Diantaranya
hadits-hadits tersebut adalah :
عَن
ابي موسى رضى الله عنه قال, قالوا يا رسول الله اْي الاسلام افضل؟ قال من سلم
المسلمون من لسا نه و يده (رواه البخاري و
غيره )[4]
Dari
Abu Hurairoh berkata : Bahwa Rosululloh SAW ditanya (oleh seseorang), “Amalan
apakan yang paling utama?” Beliau menjawab “Beriman kepada Alloh”. (Beliau)
ditanya lagi “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab “Jihad di jalan Alloh.”
(Beliau) ditanya lagi “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab “Haji Mabrur”.
عن
ابي هريرة ان رسول الله صل الله عليه وسلم سئل اي العمل افضل؟ فقال ايمان بالله
وسوله قيل ثم ماذا؟قال الجهاد في سبيل الله قيل ثم ماذا؟ قال حج مبرور (رواه
البخاري و غيره ) [5]
(Hadis riwayat) dari Abudullah bin Mas’ud,
dia berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW : Amalan apakah yang paling
utama?” Beliau menjawab : “Sholat pada waktunya”. Bertanya lagi, “Kemudian apa
lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua” bertanya lagi, “Kemudian
apa lagi?” Beliau menjawab “Jihad di jalan Alloh”.
Pada
kedua hadis diatas dapati dilihat bahwasannya kedua hadis tersebut mempunyai
pertanyaan yang sama akan tetapi memiliki jawaban yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Jawaban yang diberikan nabi sangat memperhatikan kondisi
psikologi sang penanya. Dalam konteks ini seakan Rosulullah menjadi seorang
psikiater yang memberikan jawaban kepada dua orang yang memiliki perbedaan
dalam kehidupan mereka.
Pada
saat sang penanya adalah seorang yang sering berbuat maksiat dan lain
sebagainya, maka kapasitas Nabi disini menjadi seorang pembimbing dan
menasehatinya agar menghindarkan dirinya dari maksiat.
Pada
saat sang penanya merupakan orang yang terlalu sibuk dengan urusan sendirinya,
sering mengulur waktu solat, bahkan sampai lupa berbakti kepada orang tuanya,
maka amalan yang paling utama baginya adalah solat pada waktunya dan berbakti
kepada orang tuanya.
Dalam
memahami hadis dengan pendekatan ini mempunyai dua kemungkinan, yang pertama:
jawaban dari Rosul hanya untuk orang yang bertanya saja, kedua: mempertimbangkan
bahwasannya jawaban nabi merupakan petunjuk umum bagi kelompok masyarakat, yang
dalam kesehariannya memerlukan bimbingan dengan menekan adanya amalan-amalan
tertentu. Orang yang bertanya berfungsi sebagai wakil dari hadis yang diberikan
Rosul untuk memberikan bimbingan bagi masyarakat.
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa beberapa pendekatan dalam memahami hadits tersebut tidak bisa
diterapkan dalam seluruh hadits nabi, tetapi dengan melihat aspek-aspek di luar
teks seperti asbab wurud, setting social kondisi social keagamaan yang
berkembang pada saat hadits disabdakan, tentu akan dapat diketahui pendekatan
mana yang lebih tepat dalam untuk dipakai dalam memahami hadits tersebut.[6]
Wallahu A’lam.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka. Jakarta.
Imam Nawawi, Sahih Muslim, Darul Ma’rifat, Beirut
Lebanon. Cet.2, 2002.
Imam Abi
Abdillah, Sahih Buhari, Darul Kutub al ’Imiyah,
Beirut Lebanon, cet 1, 1992.
Nizar Ali, Memahami
Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan) Yogyakarta : CESaD YPI AL-Rahmah,
cetakan pertama, 2001.
Sarwono,
Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta : Raja Grafindo
Persada, cetakan ke-empat, 1998.
Werungan,
Psikologi Sosial, Bandung : Eresko, cetakan ke-sebelas, 1988.
METODE PENDEKATAN HADIS SECARA PSIKOLOGI

Makalah ini disusun guna untuk
memenuhi tugas
mata kuliah Ulumul Hadits II
Dosen Pengampu:
Dr. Hj. Erwati Aziz
Disusun
oleh:
Muhammad
Ali Ibrahim
30.07.4.5.007
JURUSAN
USHULUDDIN PRODI TAFSIR HADIS
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2009
[1]
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka Jakarta. Hal 901.
[2].Wirawan Sarwono, Teori-Teori
Psikologi Sosial, Jakarta : Raja Grafindo Persada, cetakan ke-empat,
1998.h. 27.
[3] Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi, YPI Al-Rahmah Yogyakarta. Hal 108.
[4]. Shahih Bukhari, juz I,
h. 14.
[5]. Ibid.
[6]. Ibid.